Cara Internet Broadband Meningkatkan Perawatan Dan Pendidikan Kesehatan

Di banyak bagian dunia, dapat mengunduh informasi di ponsel cerdas, tablet, atau laptop dalam beberapa detik adalah hal biasa.
Di kota-kota besar, koneksi internet nirkabel lebih banyak ditemukan di mana-mana daripada warung kopi. Hal ini mungkin berbanding terbalik dengan apa yang kita temukan didesa. Di pedesaan internet cukup sulit dijangkau terutama karena akses jalan yang tidak memadai dan pemasangan BTS atau menara sinyal yang sedikit. Untuk itulah beberapa penyedia jasa layanan internet memiliki program internet desa yang bisa dimanfaatkan oleh semua warga desa. Dengan itu, semua masyarakat pedesaan bisa mendapatkan informasi yang sama dengan masyarakat perkotaan.

Broadband, atau transmisi data bandwidth lebar yang memiliki kapasitas untuk mengirimkan banyak informasi dengan cepat, telah mengubah cara kita bekerja, berbelanja, menonton film, dan berkomunikasi dengan orang yang dicintai. Koneksi broadband memungkinkan kita untuk mengakses jenis konten, layanan, dan aplikasi yang lebih kuat – obrolan video versus email, atau streaming langsung versus obrolan, misalnya. Namun jika kita melihat di luar penggunaan pribadi kita, kita dapat melihat bahwa akses internet broadband bukan hanya kenyamanan. Itu adalah kekuatan yang kuat untuk perubahan sosial.

Dalam pendidikan, teknologi broadband dapat memiliki dampak yang sangat besar. Pendidik menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kekurangan guru, akses terbatas di daerah pedesaan dan perbedaan gender. Sebagai contoh, dunia akan membutuhkan 3,3 juta guru sekolah dasar dan 5,1 juta guru sekolah menengah di kelas pada tahun 2030 untuk menyediakan semua anak dengan pendidikan dasar. Menurut Laporan Pemantauan Global Untuk Semua Global 2013-2014. Hampir 500 juta wanita buta huruf, terhitung hampir dua pertiga orang dewasa buta huruf di dunia. Perawatan kesehatan adalah bidang lain di mana koneksi internet yang kuat dapat memerangi kekurangan dokter dan menutup kesenjangan perkotaan-pedesaan. Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa lebih dari setengah populasi di negara-negara berkembang tinggal di daerah pedesaan, tetapi daerah pedesaan dilayani oleh kurang dari 25 persen dari total tenaga kerja dokter.